foto dok isitmewah

INFOKINI.NEWS, KOTAMOBAGU –  Guna menekanan angka putus sekolah dan menigkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), Pemerintah Desa (Pemdes) Bilalalang 1, Kecamatan Kotamobagu Utara, menyiapkan anggaran bagi masyarakat  putus sekolah untuk ikut jalur pendidikan non formal kejar (kelompok belajar)  paket A, B, dan C.

Sangadi Bilalang I, Badaria A Mokoginta, mengatakan,  program  tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2017. Menurutnya, ini merupakan bagi dari menindaklanjut visi misi presiden dan Wali Kota Kotamobagu, Tatong  Bara.

“Program pendidikan non formal kejar paket A, B, dan C, sudah berlangsung selama tiga tahun, sejak 2017 silam. Program ini mendapat apresiasi dan perhatian langsung dari pemerintah pusat,” katanya, Rabu (6/11/2017).

Diterangkanya, saat ini yang masyarakat yang mengikuti program ini sudah 100 orang. Ia pun mengimbau bagi masyarakat Bilalang 1 ingin mengikuti program pendidikan non formal, untuk mendatangi Kantor Desa dengan menunjukan identitas diri sebagai warga Desa Bilalang 1.

“Selama dia masyarakat Desa Bilalang Satu dan ingin menempuh paket A, B atau pun C, maka kami akan membiayainya,” katanya. (*/irg)

 

1 KOMENTAR

  1. Lima judul draft buku-buku tersebut sebelumnya telah coba dibagikan pada awal bulan Oktober 2009 ketika pertemuan Forum Guru Pendidikan Pusaka digelar di SD Budi Mulia Dua, Seturan, Sleman. Selama satu bulan, guru-guru diminta untuk mengujicobakan buku-buku berwujud komik dan cerita bergambar itu kepada para siswanya. Kemudian, pada bulan November 2009, tim Pendidikan Pusaka melakukan evaluasi terhadap ujicoba penggunaan buku cerita bergambar dan komik untuk memperkenalkan pusaka kepada anak usia SD. Belanda, sebagai negara yang telah memiliki kemampuan pengelolaan pusaka yang baik, ternyata baru membangun program pendidikan pusaka secara nasional sejak empat tahun terakhir dan diikuti oleh sekitar 200 SD. Dalam prosesnya hingga kini, jaringan yang terdiri dari lembaga swadaya masyarakat, sekolah, dan pemerintah di Belanda terus menggali strategi yang lebih optimal untuk menjamin keberlangsungan program tersebut. Indonesia, yang memiliki kekayaan pusaka jauh lebih melimpah daripada negeri Belanda, baru memulai dalam waktu satu tahun, dengan diikuti hanya sejumlah 13 SD di satu wilayah provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dikelola secara gotong-royong oleh sebuah tim yang bekerja paruh waktu, yang dalam perjalananya giat berkoordinasi dengan tim BPPI di Jakarta dan tim EN di Belanda, program ini telah berhasil menyelesaikan kegiatan percontohannya dengan beragam catatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here