Haul Ibunda Bupati, Doa Mengalun di Al-Baqiyatush Shalihat

oleh -402 Dilihat
Gambar: Suasana doa dan lantunan selawat dalam peringatan Haul Almarhumah Hj. Siti Fatimah di Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat, Kuala Tungkal, Kamis, 12 Februari 2026. Foto : Jun.

IKNews, TANJUNG JABUNG BARAT – Lantunan selawat memecah keheningan malam di halaman Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat, Kuala Tungkal, Kamis (12/2/2026). Ratusan jamaah duduk bersila, sebagian menunduk khusyuk, sebagian lain menyeka air mata saat doa-doa dipanjatkan untuk almarhumah Hj. Siti Fatimah.

Peringatan haul itu bukan sekadar agenda tahunan keluarga besar pesantren. Di antara para jamaah, tampak Bupati Tanjung Jabung Barat, Anwar Sadat, hadir bersama istrinya. Namun malam itu, ia lebih banyak berdiri sebagai anak yang mengenang sosok ibunda, bukan sebagai kepala daerah.

Sejak selepas salat Isya, para santri telah memadati ruang utama pesantren. Barisan ustaz duduk bersaf rapi memimpin tahlil dan zikir. Cahaya lampu yang temaram menyelimuti kompleks pesantren, memperkuat suasana haru yang terasa hingga ke halaman luar.

Almarhumah Hj. Siti Fatimah dikenal sebagai sosok yang setia mendampingi perjuangan Almarhum Syekh KH. Muhammad Ali dalam membesarkan dan mengembangkan pendidikan di pesantren tersebut. Bagi sebagian warga Kuala Tungkal, namanya lekat dengan keteladanan dan kesederhanaan.

Sejumlah tokoh agama yang ditemui di sela kegiatan menyebut haul sebagai ruang mengingat kembali jejak pengabdian keluarga pesantren dalam membina generasi muda. “Pesantren ini tumbuh dari ketulusan dan kerja sunyi,” ujar salah seorang jamaah yang datang bersama keluarganya.

Isak tangis beberapa jamaah pecah saat doa khusus dibacakan. Di sudut lain, para santri tetap melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suara bergetar namun terjaga. Suasana berlangsung khidmat hingga acara ditutup dengan doa bersama.

Malam itu, haul menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menghadirkan kembali kenangan, nilai perjuangan, serta kedekatan emosional antara keluarga besar pesantren dan masyarakat yang selama ini tumbuh bersama lembaga pendidikan tersebut.

Kehadiran para pejabat daerah dan tokoh masyarakat tampak menyatu tanpa jarak dengan para santri dan warga. Namun yang paling terasa adalah nuansa kekeluargaan—sebuah malam ketika doa menjadi pengikat ingatan dan penghormatan kepada sosok ibu yang telah berpulang.* (Mg02)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.