Program ‘ASRI’ Presiden Prabowo Gagal di Kota Gorontalo, Pohon Jadi Tempat Sampah

oleh -84 Dilihat
Gambar: Tumpukan sampah rumah tangga terlihat menggunung dan sebagian digantung di batang pohon di salah satu ruas jalan Kota Gorontalo, menimbulkan bau tak sedap dan dikeluhkan warga sekitar. Selasa, 17 Februari 2026. Foto : Iky.

IKNews, GORONTALO – Bau menyengat tercium begitu memasuki salah satu ruas jalan utama di Kota Gorontalo, Selasa siang. Di bawah rindangnya pepohonan, kantong-kantong plastik berisi sampah justru bergelantungan di batang dan dahan, sementara sisanya menumpuk di tepi jalan. Pemandangan ini kontras dengan seruan pemerintah pusat yang belakangan menekankan pentingnya kebersihan lingkungan.

Beberapa warga yang ditemui mengaku resah dengan kondisi tersebut. Sampah rumah tangga disebut sudah berhari-hari tidak terangkut, hingga akhirnya sebagian warga memilih menggantungnya di pohon agar tidak diacak hewan liar.

“Kalau ditaruh di bawah, biasanya berserakan. Jadi digantung saja, walaupun tetap bau,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Isu kebersihan sebenarnya menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah agenda nasional. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, pertengahan Februari lalu, ia kembali mengingatkan kepala daerah agar tidak mengabaikan persoalan sampah yang dinilai sudah masuk kategori darurat di banyak wilayah.

Namun di lapangan, situasi di Kota Gorontalo justru memperlihatkan tantangan berbeda. Tumpukan sampah tampak di depan rumah warga, di sudut-sudut jalan strategis, hingga median jalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik terhadap efektivitas program kebersihan yang digaungkan, termasuk konsep “ASRI” (Aman, Sehat, Resik, Indah).

Sejumlah warga menilai aspek “aman” dan “sehat” sulit diwujudkan jika tumpukan sampah dibiarkan terlalu lama. Selain menimbulkan bau tak sedap, genangan air di sekitar sampah dikhawatirkan menjadi sarang penyakit.

“Kami khawatir kalau musim hujan, air bercampur sampah masuk ke halaman rumah,” kata warga lainnya.

Sorotan juga mengarah pada kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea. Sebagai kepala daerah, ia dinilai memiliki tanggung jawab memastikan sistem pengelolaan sampah berjalan optimal, terlebih dengan dukungan anggaran operasional yang bersumber dari keuangan negara.

Pengamat kebijakan publik lokal menilai, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan imbauan atau slogan. Dibutuhkan manajemen pengangkutan yang konsisten, edukasi warga, serta pengawasan rutin di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi sampah di sejumlah titik masih terlihat menumpuk. Pepohonan di tepi jalan pun seolah berubah fungsi menjadi “gantungan” sampah, menjadi potret ironi di tengah seruan nasional tentang pentingnya kebersihan kota.* (Mg01)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.