IKNews, TOUNA – Di antara hamparan bukit dan jalanan yang merobek mimpi, terbentang sebuah kisah yang mengiris hati.
Fota jenazah Almarhumah WITA Ladi yang diangkut dengan motor, bukan sekedar gambar, melainkan cermin buram yang merefleksikan realita pahit di wilayah terpencil.
Air mata boleh saja mengalir, namun logika dan fakta harus menjadi kompas penuntun.
Ambulans, sang penyelamat nyawa di jalanan perkotaan , berbeda jauh dengan mobil jenazah yang membawa keheningan.
Ambulans hadir dengan sirine meraung, membawa harapan di tengah denyut nadi yang melemah.
Sementara mobil jenazah, mengantar ke peristrahatan terakhir dengan penghormatan , tanpa gegap gempita.
Namun,di Dataran Bulan, realita berbicara lain.
Bukan karena ketiadaan mobil jenazah, melainkan karena tantangan alam yang menghadang.
Jalanan yang hanya biasa ditaklukkan oleh roda dua, memaksa keluarga almarhumah mengambil pilihan pahit.
Bukan karena abai, melainkan karena sayang, mereka ingin segera mentarkan Wita ke pelukan bumi pertiwi.
Di tengahbriuhnya kritik dan saling menyalahkan, penting untuk melihat alasan di balik keputusan tersebut .
Mengangkut jenazah WITA dengan mobil jenazah di jalanan terjal dan berliku, justru berpotensi menyiksa almarhumah dalam perjalanan panjang menuju rumah duka.
Keluarga, dengan segala keterbatasan memilih cara yang dianggap paling manusiawi dan menghormati.
Kisa ini buka tentang benar atau salah, melainkan tentang keterbatasan yang marajela.
Keterbatasan akses, keterbatasan pilihan, keterbatasan daya.
Semoga tragedi ini menjadi cambuk bagi kita semua, untuk lebih peduli, lebih berempati, dan lebih berupaya membuka akses bagi mereka yang terpinggirkan.
Agar tak ada lagi air mata yang mengalir dijalanan berbatu, dan setiap jiwa dapat beristirahat dengan tenang.*








