IKNews, GORONTALO – Sesak, nyesek itulah kondisi Kota Gorontalo saat ini. Dibutuhkan pemimpin kolaboratif untuk menyelesaikan persoalan diantaranya: fasilitas umum, fasilitas sosial dan infrastruktur penunjang lainnya.
Trotoar sudah dijadikan tempat jualan, Kantor Walikota pun demikian. Alih-alih pemberdayaan ekonomi, justru kesemrawutan terlihat jelas disudut Kota Gorontalo.
Selain pemimpin kolaboratif, Kota Gorontalo butuh pemimpin dengan gagasan segar, ide brilian yang mampu berpikir konseptual, aktual dan jauh dari permainan kata-kata.
Professor Syarwani Canon dalam agenda diskusi akhir tahun dengan tema: Refleksi Ekonomi 2025 dan Outlook Ekonomi 2026 menyoroti problematika di Kota Gorontalo.
“Sebagai contoh untuk saat ini saja kita bisa mencermati beberapa fasilitas umum dan fasilitas sosial, bahkan infrastruktur penunjang sudah tidak bisa lagi diakomodir oleh kapasitas dan daya tampung kota Gorontalo”. Ungkap Prof. Syarwani Canon.
Hal ini dikemukakan dalam kapasitasnya sebagai Tim Peneliti Kajian Aglomerasi Kota Gorontalo.
Secara ilmiah, hal ini tergambarkan dalam rekomendasi dengan bobot 4,5 untuk melakukan ekstensifikasi, menyusul perbaikan manajemen tata kelola 4,25 dan barulah terakhir intensifikasi dengan bobot 3,67. Olehnya belumlah terlambat jika kendala limitasi administrasi wilayah dapat dikolaborasikan dengan baik, maka proses perkembangan dioptimasi akan berjalan baik bersamaan dengan perbaikan tata kelola dan kiat intensifikasi tersebut.* (MG/02)






