IKNews, SULUT –Di tengah seriusnya pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Provinsi Sulawesi Utara 2025, sebuah usulan tak biasa mencuri perhatian: kontes ayam.
Bukan tanpa alasan, usulan ini muncul dari anggota DPRD Sulut, Pierre Makisanti, yang melihat potensi besar budaya lokal dalam dunia perayaman yang selama ini tersembunyi di balik stigma judi sabung ayam. Dalam rapat bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Pierre mengajukan agar kontes ayam dimasukkan dalam pos anggaran perubahan.
“Ini supaya hobi masyarakat tersalur di tempat yang tepat. Kalau ada kontes ayam resmi, peserta dari seluruh Sulawesi Utara bisa ikut. Rame itu, daripada mereka ke tempat-tempat gelap buat sabung ayam,” ungkap Pierre, Selasa (26/8/2025).
Usulan ini sempat mengundang reaksi. Sekretaris Provinsi Sulut, Tahllis Galang, semula mengira ajang ini terkait upaya legalisasi sabung ayam. Namun setelah dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah kontes ayam hias, ia memberi tanggapan positif.
“Kalau soal judi, saya jelas menolak. Tapi kalau ini untuk kontes ayam hias, ya itu bagus juga,” ucapnya.
Di banyak daerah di Sulawesi Utara, ayam bukan sekadar ternak. Ayam hias seperti ayam ketawa, ayam serama, atau ayam pelung telah lama menjadi bagian dari identitas budaya dan sosial masyarakat. Ajang kontes ayam bukan sekadar pameran hewan, melainkan ruang silaturahmi, adu gengsi seni rawatan, hingga ajang pelestarian plasma nutfah unggas lokal.
Pierre menilai jika difasilitasi pemerintah, kegiatan ini bisa menjadi solusi kultural untuk menggeser praktik ilegal sabung ayam yang marak terjadi di beberapa kabupaten/kota di Sulut. Kontes ayam resmi bisa menjadi bagian dari kalender budaya, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di sektor peternakan hobi dan UMKM.
Gagasan ini membuka diskusi baru tentang bagaimana tradisi dan budaya lokal dapat dikelola secara sehat dan bermartabat. Jika diselenggarakan secara profesional, kontes ayam hias bisa menjadi wisata budaya unik, layaknya kontes burung atau lomba karapan sapi di daerah lain.
Sulawesi Utara punya potensi besar. Tinggal bagaimana niat baik ini tidak berhenti sebagai sensasi di ruang rapat, tapi benar-benar diwujudkan dalam program yang menghargai akar budaya rakyat. (Desiere)