Udi Masloman: Menjaga Akar di Tanah yang Bukan Darahnya

oleh -149 Dilihat
oleh
Iswahyudi “Udi” Masloman berdiri—lahir di Tondano, 1 Desember 1983, namun memilih menanamkan hidup, pikiran, dan dedikasinya di Bolaang Mongondow Raya (BMR), tanah tempat ia berpijak hari ini. Senin (09/02/26). Foto: Udi

IKNews, Sosok – Tidak semua orang memperjuangkan tanah karena garis darah. Sebagian melakukannya karena kesadaran sejarah, tanggung jawab sosial, dan keyakinan bahwa daerah harus dibela dengan karya.

Di titik itulah Iswahyudi “Udi” Masloman berdiri—lahir di Tondano, 1 Desember 1983, namun memilih menanamkan hidup, pikiran, dan dedikasinya di Bolaang Mongondow Raya (BMR), tanah tempat ia berpijak hari ini.

Udi dikenal luas sebagai jurnalis media siber. Namun perjalanannya jauh melampaui ruang redaksi. Ia adalah penggerak komunitas, pemimpin organisasi pers, pegiat budaya, penyiar radio, hingga penulis lagu. Satu benang merah yang mengikat seluruh perannya adalah ikhtiar menjaga identitas lokal agar tidak hilang oleh waktu dan arus modernitas.

Dari Hobi Menulis Menjadi Wartawan

Perjalanan jurnalistik Udi berangkat dari hobi menulis. Meski berlatar pendidikan Biologi Kelautan, ia memilih jalur wartawan sebagai ruang aktualisasi dan pengabdian. Sejak 2013, Udi menekuni dunia jurnalistik secara autodidak, belajar dari lapangan, dan menempatkan karya sebagai ukuran utama profesionalisme.

Dalam sejumlah pemberitaan media lokal, Udi menyampaikan bahwa baginya wartawan bukan sekadar pemburu berita, tetapi aktor perubahan sosial. Salah satu liputannya bahkan disebut ikut mendorong lahirnya kebijakan daerah, seperti program penanaman pohon untuk menanamkan kecintaan pelajar pada lingkungan di kawasan hutan kota Kotamobagu.

Instanusantara Sulut: Membawa Daerah ke Panggung Nasional

Kesadaran akan pentingnya narasi daerah juga diwujudkan Udi saat menjabat Ketua Instanusantara (IN) Sulawesi Utara periode 2016–2021. Di bawah kepemimpinannya, Instanusantara Sulut berkembang sebagai wadah promosi pariwisata berbasis visual dan media sosial.

Pada Gathering Nasional Instanusantara Palu 2017, lelaki berambut gondrong ini membawa potensi wisata Sulawesi Utara dan Bolaang Mongondow Raya ke forum nasional. Setahun kemudian, pada Gathnas Jakarta 2018, ia kembali melakukan hal yang sama—memperkenalkan lanskap alam, budaya, dan sejarah Bolmong di hadapan jejaring nasional komunitas fotografi. Media lokal kala itu menilai langkah tersebut sebagai inisiatif mandiri komunitas dalam mengangkat daerah ke level nasional tanpa menunggu campur tangan Pemerintah Daerah.

Tim Jejak Bogani dan Pengakuan Tokoh Budaya

Perjalanan Udi dalam ranah budaya semakin kuat saat ia bersama sejumlah rekan jurnalis membentuk Tim Jejak Bogani, sebuah kolektif yang berfokus mempelajari, mendiskusikan, dan mendokumentasikan sejarah serta budaya Bolaang Mongondow.

Meski tidak berdarah Mongondow, Udi konsisten memperkenalkan nilai-nilai budaya Bolmong kepada generasi muda dan publik luar daerah. Komitmen ini mendapat pengakuan dari tokoh-tokoh budaya Bolaang Mongondow, yang kerap mengundangnya dalam diskusi sejarah dan budaya di rumah adat Komalig, Desa Kopandakan I, Kecamatan Kotamobagu Selatan—ruang adat yang menjadi pusat dialog kultural lintas generasi.

KAMI: Diterima oleh Ruang, Bukan Asal-usul

Dedikasi penggila petualangan outdoor ini dalam mempromosikan pariwisata Bolaang Mongondow Raya juga tercermin dari keterlibatannya bersama Komunitas Android Mongkonai (KAMI)—sebuah komunitas kreatif anak muda yang mengampanyekan potensi wisata BMR melalui jepretan sederhana kamera ponsel Android.

Melalui KAMI, pariwisata tidak dipromosikan dengan peralatan mahal, tetapi dengan kejujuran visual, kedekatan emosional, dan sudut pandang warga. Foto-foto alam, ruang publik, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat BMR disebarluaskan sebagai narasi tandingan bahwa daerah ini memiliki daya tarik kuat jika dilihat dengan mata yang peduli.

Menariknya, keterlibatan pemilik tinggi 173cm di komunitas ini kembali menjadi pengakuan sosial atas dedikasinya. Secara administratif, Udi merupakan warga Desa Tabang, namun ia diterima sepenuhnya oleh komunitas pemuda Kelurahan Mongkonai—sebuah penerimaan yang tidak dibangun atas kesamaan domisili, melainkan atas kesamaan visi dan kerja nyata.

Bagi Udi, KAMI adalah bukti bahwa ruang-ruang kebudayaan dan pariwisata bersifat inklusif. Siapa pun yang bekerja dengan niat baik dan konsisten, akan menemukan tempatnya—meski datang dari latar yang berbeda.

Binelek: Film Pendek sebagai Ruang Nilai

Keterlibatan Udi di dunia kreatif juga pernah diwujudkan melalui Komunitas Binelek, sebuah komunitas film independen lokal yang aktif memproduksi film-film pendek dan menayangkannya melalui platform YouTube. Di komunitas ini, Udi tidak sekadar terlibat sebagai anggota, tetapi dipercaya sebagai leader dan director.

Bersama Binelek, Udi dan rekan-rekannya mencoba menghadirkan film pendek yang tidak berhenti pada hiburan ringan. Mereka menjadikan medium audio-visual sebagai ruang refleksi sosial, tempat nilai, pesan, dan realitas lokal diangkat dalam bahasa sederhana namun bermakna.

Udi pernah menegaskan filosofi kreatif komunitas tersebut, “Saat itu kami mencoba memproduksi film yang punya makna dan punya nilai untuk diambil, bukan sekadar lucu-lucuan kosong tapi tak punya isi.”

Pengalaman di Binelek memperkaya perspektif Udi tentang kekuatan visual—bahwa gambar, suara, dan cerita dapat menjadi alat pendidikan kultural, sekaligus jembatan antara generasi muda dan realitas sosial di sekitarnya.

Suara dari Udara: DC FM dan Program OKd

Selain media tulis, Udi juga pernah aktif sebagai penyiar di stasiun radio lokal DC FM. Di sana, ia menggagas dan membawakan program OKd (Orang Kota Do’e)—sebuah ruang siaran yang secara khusus mengundang komunitas, figur inspiratif, serta musisi dan band lokal BMR yang memiliki karya sendiri.

“Tujuannya mendorong anak-anak BMR jangan kalah dengan dari daerah lain. Kita punya potensi dan kemampuan, hanya mungkin kurang dukungan dan kepercayaan diri. Ini menjadi PR untuk kita semua, sudah waktu kita tak hanya menjadi penonton.”

Melalui OKd, radio tidak lagi sekadar hiburan, tetapi alat distribusi kepercayaan diri dan ruang legitimasi bagi karya lokal.

Musik dan Krayon INS: Dari Karya ke Gerakan

Udi bukan hanya mempromosikan musik lokal—ia juga pelaku di dalamnya. Bersama Krayon INS, ia menulis dan merilis sejumlah karya. Pada 2012, lagu ciptaannya “Cinta Kita Tak Salah” membawa Krayon Indonesia meraih peringkat ketiga dalam sebuah ajang musik nasional yang diselenggarakan oleh salah satu produsen rokok raksasa Indonesia.

Selain itu, karya lagunya “Rindu Untuk Bolsel” yang dirilis Krayon INS bersama Pemkab Bolsel, Ajeng, Tiffa dan Irwin menjadi salah satu lagu official Visit Bolsel.

Dua karya lain gubahan pemegang sabuk hitam pencak silat itu yang dirilis bersama Krayon dan dapat diakses di YouTube adalah “Bintang di Hatiku (Dearest Mom)” dan “Sahabat Sejatiku”

Selain sebagai musisi, Udi juga dikenal sebagai salah satu motor penting pergerakan karya-karya musik lokal BMR—menghubungkan musisi, media, radio, dan ruang panggung agar karya daerah tidak berhenti di kamar latihan.

Udi dan Krayon INS juga cukup sering tampil di panggungan musik lokal seperti Jarod Fest dan di cafe-cafe lokal di Kotamobagu dan BMR.

Pengabdian Sosial: Dari Kata ke Tindakan

Kepedulian Udi tidak berhenti pada wacana. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial. Udi tercatat sebagai relawan Komunitas Sedekah Jumat Sulawesi Utara, serta dipercaya sebagai Penanggung Jawab Komunitas Jajan Anak Yatim—sebuah gerakan sosial yang berfokus menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi anak-anak yatim melalui perhatian dan kebersamaan.

Pria berkacamata minus ini juga tercatat sebagai Ketua Divisi Seni Budaya di Komunitas Torang Baku Sayang (TBS).

Bagi Udi, kerja sosial adalah lanjutan logis dari jurnalisme: hadir langsung, menyentuh realitas, dan berbagi tanpa sorotan.

Peran Organisasi dan Tanggung Jawab Publik

Kini, Udi mengemban tanggung jawab struktural sebagai Ketua Pro Jurnalis Media Siber (PJS) Kabupaten Bolaang Mongondow dan Wakil Ketua Kerukunan Jawa Tondano Indonesia (KKJI) Kecamatan Kotamobagu Selatan.

Dalam berbagai forum, ia kerap menekankan bahwa pers, budaya, dan musik adalah tiga simpul penting dalam membangun kepercayaan diri daerah.

Menjadi Penjaga, Bukan Pemilik

Udi Masloman tidak memposisikan diri sebagai pemilik narasi, melainkan penjaga—penjaga etika pers, penjaga ingatan budaya, dan penjaga semangat berkarya anak-anak daerah.

Di Bolaang Mongondow Raya, ia membuktikan satu hal sederhana namun penting: mencintai daerah tidak harus lahir dari darah, tetapi dari keberanian untuk berdiri, bersuara, dan bekerja konsisten untuk tanah tempat kita berpijak.

Perjalanan Udi Masloman dalam merawat budaya dan identitas Bolaang Mongondow Raya mengingatkan pada pesan kuat dalam film The Last Samurai. Seperti tokoh Nathan Algren—seorang asing yang datang tanpa akar darah, namun justru menemukan makna hidup saat memilih belajar, menghormati, dan menjaga nilai-nilai samurai—Udi menempuh jalan serupa di tanah yang tidak melahirkannya.

Ia tidak datang membawa klaim, tidak pula memposisikan diri sebagai pemilik kebudayaan. Ia datang sebagai pembelajar, lalu tumbuh menjadi penjaga. Dari lensa kamera ponsel bersama KAMI, diskusi sejarah di Komalig, produksi film pendek Binelek, hingga liputan jurnalistik dan karya musik, Udi memilih jalan yang sama: menghidupi nilai, bukan mengeksploitasinya.

Dalam The Last Samurai, kehormatan lahir dari kesetiaan pada nilai, bukan asal-usul. Prinsip itulah yang tercermin dalam perjalanan Udi—diterima oleh komunitas Mongkonai meski berasal dari Desa Tabang, dipercaya oleh tokoh budaya Bolmong meski tak berdarah Mongondow, dan diakui oleh generasi muda karena konsistensinya menjaga makna.

Seperti samurai terakhir, Udi memahami bahwa modernitas tak harus memutus akar. Ia justru menjembataninya—antara masa lalu dan masa kini, antara budaya dan media, antara idealisme dan kerja nyata. Di sanalah pengabdiannya menemukan bentuk paling jujur: setia pada nilai, di mana pun ia berpijak. (Mg01)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.