PGE Perkuat Fondasi Panas Bumi Nasional di 2025

oleh -55 Dilihat
Gambar: Tim PGE meninjau lokasi eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung, Jumat, 10 Februari 2025, yang memiliki potensi 55 MW. Foto: Desieree.

IKNews, JAKARTA – 13 Januari 2026 Tahun 2025 menjadi titik penting bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam memperkuat pengembangan panas bumi di Indonesia. Sepanjang tahun tersebut, perusahaan menyoroti peningkatan kapasitas pembangkit, pengelolaan operasi yang andal, dan penguatan sinergi dengan berbagai pihak sebagai strategi utama.

Direktur Operasi PGE, Ahmad Yani, menekankan, “Panas bumi memiliki peran strategis sebagai tulang punggung transisi energi. Kami berupaya menghadirkan solusi energi bersih yang inklusif dan inovatif sambil menjaga keandalan operasi dan prinsip keberlanjutan.”

Salah satu capaian nyata adalah beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2, yang menambah kapasitas terpasang PGE dari 672 MW menjadi 727 MW. Di sisi lain, eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi 55 MW menunjukkan upaya PGE memperkuat cadangan panas bumi jangka panjang.

Pengembangan ini sejalan dengan target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, yang menargetkan porsi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) hingga 76 persen, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 GW. “Dengan sinergi antara PGE, PT Pertamina, dan PLN IP, pengembangan panas bumi dilakukan secara efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tambah Ahmad.

Lebih dari sekadar menghasilkan listrik, PGE juga menekankan pengembangan panas bumi sebagai sumber energi bernilai tambah. Inisiatif Beyond Electricity, seperti Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu dan pengembangan green data center, membuka peluang baru bagi panas bumi untuk mendukung ekonomi hijau.

Praktik keberlanjutan PGE juga terlihat dalam program yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk inovasi melon geothermal di Ulubelu, Pupuk Booster Katrili di Lahendong, dan pengeringan kopi dengan teknologi Geothermal Dry House di Kamojang. Tahun lalu, petani kopi Kamojang bahkan berhasil mengekspor hasil panennya ke Asia dan Eropa.

Melihat ke depan, PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW dalam 2-3 tahun ke depan, dengan peningkatan menjadi 1,8 GW pada 2033. “Dengan fondasi yang kuat dan sinergi solid, PGE optimistis memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi energi bersih di Indonesia,” tutup Ahmad.* (Mg01)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.