IKNews, MINAHASA SELATAN – Suasana Pantai Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat, Jumat siang, terasa berbeda. Di bawah terik matahari pesisir, Bupati Minahasa Selatan, Franky Donny Wongkar, memimpin langsung peletakan batu pertama pembangunan Desa Ekowisata Kapitu, menandai dimulainya penataan kawasan wisata berbasis lingkungan di wilayah tersebut.
Kehadiran Bupati yang akrab disapa FDW itu bukan sekadar seremoni. Ia terlihat berdialog dengan warga pesisir dan kelompok pengawas setempat, menanyakan kesiapan masyarakat dalam mengelola kawasan yang dirancang menjadi model ekowisata berbasis komunitas di Kabupaten Minahasa Selatan.
“Kalau lingkungan terjaga, ekonomi masyarakat pasti ikut bergerak,” ujar FDW di sela kegiatan.

Program ini memadukan pembangunan fasilitas wisata dengan agenda rehabilitasi lingkungan. Sejumlah pihak terlibat dalam mendukung realisasinya. PT Cargill Indonesia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mendanai rehabilitasi terumbu karang seluas 1.025 meter persegi, penanaman 2.000 mangrove di area pesisir, hingga pengadaan sistem penjemputan sampah dan aksi bersih pantai.
Tak hanya itu, dukungan juga datang dari Global Nature Fund Jerman dalam pembangunan fasilitas desa ekowisata. Sementara Perkumpulan Manengkel Solidaritas mengambil peran pendampingan lapangan, termasuk bantuan alat kebersihan pantai, peralatan kerja bagi BUMDes dan pengelola mangrove, serta penguatan fungsi Kelompok Masyarakat Pengawas Kapitu.
Bagi Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, pengembangan Desa Ekowisata Kapitu bukan sekadar proyek infrastruktur. FDW menekankan, kawasan ini diharapkan menjadi contoh pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan.
Sejumlah tokoh agama, perangkat desa, kelompok sadar wisata, hingga warga setempat turut menyaksikan momen peletakan batu pertama tersebut. Di tangan pemerintah daerah dan masyarakat, Kapitu kini bersiap menata masa depan sebagai destinasi wisata yang tak hanya indah, tetapi juga lestari.* (Andrey)







