Demo Memanas di Mapolres Nganjuk: Ratusan Mahasiswa Tuntut Keadilan atas Kematian Driver Ojol

oleh -90 Dilihat
Gambar: Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat membentangkan poster dan meneriakkan yel-yel tuntutan saat menggelar aksi solidaritas di depan Mapolres Nganjuk Sabtu, 30 Agustus 2025 , memprotes kematian Affan Kurniawan, driver ojek online. Aksi sempat memanas dan menyebabkan kemacetan panjang di jalur Surabaya–Madiun. Foto : Roma.

IKNews, NGANJUK — Aroma kemarahan memenuhi udara sore itu di depan Mapolres Nganjuk, Sabtu (30/8). Ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat tumpah ruah ke jalan, menyuarakan satu tuntutan: keadilan bagi Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas tertabrak mobil taktis Brimob.

Langit mendung tak menyurutkan langkah para demonstran yang mulai berkumpul sejak pukul 15.00 WIB di Terminal Col Nganjuk. Massa yang terdiri dari kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan warga sipil lainnya, berjalan beriringan menuju Mapolres dengan penuh semangat dan amarah yang terpendam.

Namun aksi damai ini berubah panas. Menjelang petang, massa mendadak membubarkan diri secara tidak teratur. Kayu dan batu beterbangan ke arah jalan raya. Jalan utama Surabaya–Madiun lumpuh. Klakson bersahutan, suasana kian tegang saat pengendara sepeda motor mulai melakukan aksi blayer-blayer.

“Suaranya seperti genderang perang. Warga panik, pengendara bingung,” ujar Wati, seorang penjual kaki lima yang biasa mangkal di sekitar Mapolres.

Di tengah massa, Harianto, salah satu peserta aksi, dengan suara lantang menyerukan perjuangan. “Kita di sini menuntut ketidakadilan dan berjuang melawan kezaliman,” teriaknya penuh emosi.

Aksi ini merupakan reaksi atas kematian Affan Kurniawan, yang menurut berbagai sumber, meninggal dunia setelah tertabrak kendaraan taktis milik Brimob saat bertugas. Kasus tersebut memicu gelombang solidaritas, terutama di kalangan mahasiswa dan komunitas ojek online di Nganjuk.

Ketua PC PMII Nganjuk, Ali Rohman, dalam konferensi persnya, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar ekspresi duka, tetapi seruan keras agar institusi kepolisian direformasi secara total.

“Ada enam tuntutan yang kami bawa hari ini. Mulai dari penghentian kekerasan oleh aparat, hingga mendesak evaluasi terhadap kepemimpinan Kapolri,” ujar Ali.

Tuntutan lengkap yang dibacakan di depan massa mencakup:

1. Hentikan tindakan represif aparat.
2. Usut tuntas semua bentuk kekerasan terhadap warga.
3. Laksanakan reformasi total institusi kepolisian.
4. De-militerisasi Polri.
5. Tegakkan transparansi dalam proses hukum.
6. Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kapolri.

Ali menepis tudingan bahwa kerusuhan dalam aksi tersebut berasal dari pihak mahasiswa. “Kami sudah instruksikan agar peserta tidak anarkis. Semua mengenakan almamater sebagai bentuk identitas,” tegasnya.*

Laporan : Roma

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.