IKNews, MINAHASA UTARA – Deretan bibit kelapa mulai ditanam di lahan warga Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, Senin (2/3/2026). Dari desa inilah program peremajaan dan hilirisasi kelapa rakyat Sulawesi Utara resmi digulirkan, dengan target ambisius: 18.000 hektare kebun diremajakan dan diperluas sepanjang 2026.
Di bawah terik matahari, sejumlah petani tampak mengikuti proses tanam perdana. Wakil Gubernur Sulut, Victor Mailangkay, yang hadir di lokasi, menegaskan komoditas kelapa bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan bagian dari identitas daerah yang lama dikenal sebagai “Bumi Nyiur Melambai”.
“Sebagian besar pohon kita sudah tua, produktivitas menurun. Kalau tidak diremajakan sekarang, kita bisa kehilangan momentum,” ujarnya kepada wartawan di sela kegiatan.

Data pemerintah daerah menunjukkan banyak kebun rakyat di wilayah pesisir dan pedesaan didominasi tanaman berusia puluhan tahun. Kondisi itu berdampak langsung pada hasil panen yang tak lagi optimal. Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem juga menjadi tantangan tambahan bagi petani.
Program yang dimulai di Desa Matungkas ini tidak hanya berfokus pada penanaman ulang. Pemerintah daerah menjanjikan dukungan anggaran tambahan bagi Kabupaten Minahasa Utara guna mempercepat peremajaan kebun rakyat, termasuk penyediaan bibit lokal dan varietas unggul baru, serta pendampingan teknologi budidaya.

Di lokasi yang sama, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Kuntoro Boga Andri, menilai Sulawesi Utara sebagai kawasan prioritas pengembangan komoditas strategis seperti kelapa, kakao, dan pala. Ia menyoroti persoalan klasik: rendahnya nilai tambah karena sebagian besar kelapa dijual dalam bentuk mentah.
“Selama ini petani lebih banyak menjual bahan baku. Padahal produk turunannya sangat beragam dan bernilai tinggi,” katanya.
Produk turunan kelapa, mulai dari gula semut berbahan nira, arang tempurung, cocopeat, hingga olahan pangan dan kosmetik, dinilai berpotensi membuka lapangan usaha baru. Konsep hilirisasi yang didorong pemerintah pusat dan daerah diarahkan agar keuntungan tidak berhenti di rantai distribusi, melainkan kembali ke petani dan pelaku usaha lokal.

Sejumlah petani yang ditemui berharap program ini benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar proyek musiman. Mereka menekankan pentingnya akses pasar dan stabilitas harga agar peremajaan kebun berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Minahasa Utara, Novly Wowiling, mewakili bupati bersama jajaran pemerintah kabupaten. Namun bagi para petani, harapan terbesar ada pada hasil nyata di kebun mereka dalam beberapa tahun ke depan.* (Denny)










