Cap Go Meh di Wori: Meriah dalam Kesederhanaan, Harmoni di Tengah Ramadan

oleh -80 Dilihat
Gambar: Warga mengikuti perayaan Festival Cap Go Meh Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Desa Wori, Kecamatan Wori, Minahasa Utara, dalam suasana sederhana dan penuh kebersamaan di tengah bulan suci Ramadan Selasa, 3 Maret 2026. Foto: Denny.

IKNews, MINUT – Dentuman tambur dan warna-warni lampion mewarnai Desa Wori, Kecamatan Wori, Selasa (3/3/2026). Perayaan Cap Go Meh Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili digelar sederhana, namun tetap semarak. Warga dari berbagai latar belakang agama dan suku tampak berbaur menikmati suasana.

Di tengah bulan suci Ramadan, momen itu menghadirkan pemandangan yang jarang ditemui di banyak tempat: umat Muslim menjalankan ibadah puasa, sementara warga Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Namun di Wori, keduanya berjalan berdampingan tanpa sekat.

Festival tersebut secara resmi dibuka oleh Bupati Minahasa Utara, Joune James Esau Ganda, yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Khristiana P.G. Doodoh. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan.

“Perayaan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah. Justru di situlah kekuatan kita,” ujar Khristiana membacakan sambutan bupati di hadapan warga dan tamu undangan.

Di antara kerumunan, terlihat anak-anak berlarian membawa bendera kecil, sementara para orang tua berbincang santai di tepi jalan. Sejumlah pelaku UMKM memanfaatkan momentum ini dengan membuka lapak makanan dan kerajinan. Aroma kuliner khas bercampur dengan semilir angin laut Wori.

Beberapa warga mengaku senang perayaan tetap digelar meski bersamaan dengan Ramadan. “Ini sudah biasa di sini. Kami saling menghargai. Kalau waktu berbuka tiba, saudara-saudara Muslim juga kami beri ruang,” kata Lina, salah satu warga keturunan Tionghoa.

Selain sebagai simbol kerukunan, pemerintah daerah melihat festival ini sebagai peluang menggerakkan ekonomi lokal. Sektor pariwisata berbasis budaya dinilai mampu memberi ruang bagi pelaku usaha kecil dan seniman lokal untuk tampil.

Turut hadir dalam kegiatan itu Camat Wori Oktavianus Jus Mayuntu, Kapolsek Wori Iptu Novri Sanger, unsur TNI, serta tokoh agama dan masyarakat. Namun sorotan utama tetap pada warga yang menjadi denyut perayaan.

Menjelang akhir acara, semangat kebersamaan terasa kian kuat. Pekikan khas daerah, “Pakatuan wo pakalawiden,” menggema, menutup rangkaian kegiatan sore itu.

Di Desa Wori, Cap Go Meh tahun ini bukan hanya soal tradisi yang dirayakan, tetapi tentang bagaimana keberagaman dirawat—bahkan ketika dua momentum keagamaan besar hadir dalam waktu yang sama.* (Denny)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.