IKNews, JEMBER — Suara mesin pompa listrik terdengar bersahut di tepi sungai Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari. Tak lama setelah saklar dinyalakan, air mengalir deras melalui pipa-pipa yang membentang di pematang sawah. Bagi petani di Kelompok Tani Budi Luhur, pemandangan ini menjadi penanda perubahan besar: mereka tak lagi menunggu hujan untuk mulai menanam.
Di lahan seluas 34,91 hektare, air kini bisa dialirkan hanya dengan mengisi token listrik. Sistem irigasi perpompaan itu memanfaatkan air sungai yang diisap menggunakan pompa listrik, lalu didistribusikan melalui jaringan pipa sepanjang ratusan meter. Di setiap petak sawah terpasang panel buka-tutup untuk mengatur aliran sesuai kebutuhan.
Ketua Poktan Budi Luhur, Fathoni, menceritakan bahwa sebelumnya hanya sawah yang berada di pinggir sungai yang bisa terairi, itu pun dengan mesin diesel berbiaya tinggi. Lahan di bagian tengah dan hilir nyaris tak tersentuh air sehingga petani tak bisa menanam padi serentak.
“Kalau kemarau panjang, ya kami hanya bisa pasrah. Sekarang, begitu pompa dinyalakan, air langsung jalan,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (28/02/2026).
Perubahan itu bermula dari usulan petani yang difasilitasi Dinas Pertanian setempat. Melalui Program Optimasi Lahan (Oplah) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, kelompok ini mendapat bantuan sistem IRPOM (Irigasi Perpompaan) berupa pipanisasi sepanjang 325 meter. Namun karena jaringan tersebut belum menjangkau seluruh lahan, petani secara swadaya menambah pipa hingga total 576 meter.
Langkah gotong royong itu membuat distribusi air kini lebih merata. Hadi, salah satu petani, mengaku optimistis bisa meningkatkan frekuensi tanam. “Dulu paling satu kali padi dalam setahun. Kalau air aman seperti ini, kami yakin bisa sampai tiga kali,” katanya.
Selain memangkas biaya bahan bakar, penggunaan pompa listrik juga dinilai lebih praktis dan stabil. Petani cukup memastikan ketersediaan token listrik untuk mengoperasikan pompa sesuai jadwal pengairan yang telah disepakati bersama.
Meski demikian, Fathoni berharap program serupa bisa menjangkau kelompok tani lain di sekitar Bangsalsari yang masih menghadapi persoalan air. Menurutnya, ketersediaan irigasi menjadi kunci keberlanjutan produksi, terutama saat musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya.
Di Sukorejo, air yang kini mengalir tak sekadar membasahi sawah. Ia menghadirkan harapan baru bagi petani untuk menjaga ritme tanam dan mempertahankan hasil panen di tengah tantangan cuaca yang kian sulit diprediksi.* (Sofyan)






