IKNews, JEMBER – Hamparan sawah di Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, yang selama puluhan tahun hanya dipenuhi semak dan rumput liar, kini mulai kembali diolah. Lahan seluas 179 hektare yang sebelumnya nyaris tak pernah menghasilkan akibat banjir berkepanjangan, mulai digarap petani setelah adanya Program Optimalisasi Lahan (Oplah).
Pantauan di lokasi, Rabu (22/1/2026), sejumlah petani anggota Kelompok Tani Sumber Tani 2 tampak sibuk menyiapkan lahan. Beberapa di antaranya bahkan terlihat meneteskan air mata haru. Bagi mereka, momen ini menjadi penanda berakhirnya penantian panjang setelah lebih dari 40 tahun sawah tak bisa ditanami padi.
Selama puluhan tahun, genangan air menjadi persoalan utama pertanian di wilayah tersebut. Setiap musim hujan, air tak pernah surut, membuat lahan mustahil diolah. Akibatnya, sawah dibiarkan terbengkalai tanpa kepastian masa depan.
Ketua Poktan Sumber Tani 2, Mufid, mengungkapkan bahwa perubahan yang terjadi saat ini terasa seperti kebangkitan bagi petani Desa Mayangan.
“Dulu kami sudah pasrah. Sawah selalu banjir, tidak ada harapan bisa tanam padi. Sekarang, setelah ada oplah, lahan bisa diolah lagi. Rasanya seperti mimpi,” kata Mufid saat ditemui di sela kegiatan pengolahan lahan.
Program Oplah yang dijalankan Kementerian Pertanian membuka kembali akses pengelolaan sawah dengan perbaikan tata air dan pengolahan lahan. Dari hasil pendataan sementara, sebanyak 179 hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif kini siap memasuki musim tanam perdana.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Mayangan, Masrul, menyebut keberhasilan awal ini tidak lepas dari keterlibatan aktif petani sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.
“Setelah oplah, lahan yang dulu selalu tergenang sekarang sudah bisa ditanami. Petani sangat antusias. Kami terus mendampingi, mulai dari pengolahan tanah, pengaturan air, sampai pola tanam agar hasilnya optimal,” ujar Masrul.
Meski demikian, tantangan masih dirasakan petani. Struktur tanah yang keras akibat puluhan tahun tak diolah membuat proses pembajakan membutuhkan tenaga dan biaya lebih besar.
“Biaya hampir dua kali lipat karena tanahnya keras sekali. Tapi kami tidak mengeluh. Yang penting sekarang sawah sudah bisa digarap lagi,” tutur Mufid.
Dengan kembali difungsikannya ratusan hektare sawah tersebut, petani berharap produksi padi di Desa Mayangan dapat pulih secara bertahap. Mereka optimistis wilayah ini kembali menjadi salah satu penyangga pangan di selatan Kabupaten Jember setelah sekian lama tertinggal akibat bencana banjir yang tak kunjung teratasi.* (Mg01)







