Nama Affan Bergema di Jember: Ribuan Massa Tuntut Keadilan

oleh -62 Dilihat
Gambar: Ribuan massa dari Aliansi Amarah Masyarakat Jember (AMJ) memadati halaman DPRD Jember dalam aksi solidaritas untuk Affan Kurniawan, korban mobil taktis Brimob di Jakarta Sabtu, 30 Agustus 2025. Aksi dilanjutkan ke Polres Jember dengan membawa lima tuntutan besar. Foto oleh: Damar Prasetya.

IKNews, JEMBER — Nama Affan Kurniawan kini menjelma simbol perlawanan. Gugur tragis di Jakarta setelah tubuhnya dilindas mobil taktis Barakuda Brimob saat aksi demonstrasi, Affan bukan sekadar korban—ia menjadi percikan api yang menyulut gelombang kemarahan rakyat dari ibu kota hingga ke daerah-daerah, termasuk Jember.

Sabtu siang (30/8/2025), ribuan massa dari berbagai elemen—mahasiswa lintas organisasi, pengemudi ojek online, hingga masyarakat sipil—tumplek blek di depan kantor DPRD Jember. Mereka membawa satu pesan tegas: kematian Affan bukan akhir, melainkan awal babak baru perjuangan rakyat.

Poster, spanduk, dan teriakan orator menggema menyuarakan kemarahan dan desakan perubahan. “Affan gugur di Jakarta, tapi semangatnya hidup di Jember!” teriak seorang mahasiswa dari atas mobil komando. “DPR tak lagi punya legitimasi. Bubarkan saja!”

Aksi yang diorganisir oleh Aliansi Amarah Masyarakat Jember (AMJ) ini tak sekadar teriakan kosong. Lima tuntutan dibawa dalam aksi tersebut: pembebasan aktivis yang ditahan, pengusutan kekerasan aparat, evaluasi Polri secara menyeluruh, pencopotan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dan desakan agar pemerintah berpihak pada rakyat kecil.

Di tengah sorotan kamera dan barikade polisi, Maria Masita—mahasiswa hukum Universitas Jember—berdiri lantang di atas mobil komando, memekikkan seruan:

“Jangan takut! Revolusi dimulai dari sini. Aksi ini tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan!”

Namun semangat massa sempat diuji saat mereka tiba di kantor DPRD Jember dan mendapati gedung kosong tanpa satu pun anggota dewan hadir. Kekecewaan berubah jadi determinasi. Aksi pun dilanjutkan dengan long march ke Polres Jember.

Di depan Polres, barisan polisi dan tentara sudah berjaga. Satu unit water cannon disiapkan, menciptakan suasana tegang. Namun orasi, teatrikal, dan nyanyian perlawanan tetap berlangsung damai.

Ketegangan memuncak saat Kapolres Jember, AKBP Bobby Adimas Candra Putra, menolak menandatangani salah satu tuntutan, yakni pencopotan Kapolri. “Mohon maaf, itu bukan wewenang kami di daerah,” tegasnya, memicu gelombang protes lebih lantang dari massa.

Meski begitu, aksi tetap berlangsung tertib. Para peserta menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar kemarahan, tetapi juga wujud harapan—bahwa solidaritas bisa jadi senjata paling ampuh menghadapi kekuasaan yang lupa daratan.*

Laporan : Sofyan

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.