Sintya Bojoh – Satrin Lasama, Harapan Baru untuk PWI Sulut

oleh -24 Dilihat
oleh
Ketua PWI Sulawesi Utara, Sintya Nidyah Christin Bojoh, bersama Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulut, Satrin Lasama, usai terpilih dalam konferensi daerah PWI Sulawesi Utara 31 Maret 2026. (Foto: Irsan)

IKNews, SULUT – Di tengah dinamika dunia jurnalistik daerah, nama Sintya Bojoh mulai banyak diperbincangkan setelah dipercaya memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara. Ia mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut, sebuah langkah yang dinilai membawa warna baru dalam tubuh organisasi wartawan di daerah ini.

Sejumlah wartawan yang ditemui di Bolaang Mongondow Utara menyebut kepemimpinan Sintya memberi dorongan tersendiri bagi peningkatan profesionalisme. Tak hanya soal simbol, kehadirannya dianggap membuka ruang lebih luas bagi regenerasi dan penguatan kapasitas jurnalis di daerah.

Di sisi lain, muncul pula nama Satrin Lasama yang kini duduk di Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Utara. Ia menjadi representasi pertama dari wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) yang masuk dalam struktur tersebut. Kehadirannya dinilai memberi keseimbangan baru, sekaligus memperluas representasi wilayah dalam pengambilan keputusan organisasi.

“Ini bukan sekadar posisi, tapi tanggung jawab untuk menjaga marwah profesi,” ujar Ramdan Buahan, seorang jurnalis lokal, saat ditemui usai diskusi kecil bersama rekan-rekannya.

Menurutnya, kombinasi kepemimpinan Sintya dan peran Satrin di Dewan Kehormatan menjadi harapan bagi banyak wartawan agar organisasi semakin solid, sekaligus mampu menjawab tantangan dunia pers yang kian kompleks.

Di lapangan, para jurnalis masih dihadapkan pada berbagai persoalan—mulai dari tekanan informasi cepat hingga tuntutan menjaga akurasi. Dalam situasi itu, peran organisasi seperti PWI dinilai penting untuk menjadi penopang, bukan hanya dalam hal advokasi, tetapi juga peningkatan kualitas kerja jurnalistik.

Harapan pun menguat agar kepemimpinan yang ada saat ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan benar-benar menyentuh kebutuhan wartawan di daerah. Bagi sebagian jurnalis, perubahan kecil yang nyata jauh lebih berarti dibanding sekadar janji besar. (Irsan)

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.