IKNews, BOLTARA – Suasana Lapangan Kembar Boroko, Kecamatan Kaidipang, Rabu (25/2/2026) sore, tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga memadati area lapangan untuk menghadiri pembukaan Ramadhan Fair 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Wakil Bupati Mohammad Aditya Pontoh membuka langsung kegiatan tersebut. Namun perhatian warga lebih banyak tertuju pada deretan stan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan aneka kuliner berbuka puasa, busana muslim, hingga produk kerajinan lokal.
Sejak sore, pembeli tampak mengantre di sejumlah lapak takjil. Pedagang mengaku penjualan meningkat dibanding hari biasa. “Alhamdulillah, baru dua jam sudah hampir habis. Biasanya tidak seramai ini,” kata Rahma, salah satu penjual kue tradisional.
Dalam sambutannya, Aditya Pontoh menekankan bahwa Ramadhan Fair tidak sekadar agenda tahunan, melainkan ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal. Ia menyebut kegiatan tersebut diharapkan memberi dampak langsung bagi pelaku usaha kecil selama Ramadan.
“Ramadhan Fair ini harus memberi manfaat nyata, terutama bagi UMKM kita. Selain itu, ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi,” ujarnya di hadapan warga.

Tema “Sejalan Meraih Kemenangan” diangkat untuk menggambarkan semangat kebersamaan selama bulan suci. Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang berbuka, panitia dan aparat terlihat berjaga untuk memastikan arus pengunjung tetap tertib.
Sejumlah tokoh agama dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti masyarakat dan jajaran pemerintah daerah.
Beberapa warga berharap Ramadhan Fair berlangsung konsisten sepanjang bulan puasa dan mampu menekan harga kebutuhan berbuka. “Kalau bisa rutin tiap tahun dan lebih banyak lagi pelaku UMKM yang dilibatkan,” ujar Fadli, warga Boroko.
Ramadhan Fair 2026 dijadwalkan berlangsung selama bulan Ramadan dengan berbagai agenda, mulai dari bazar kuliner hingga kegiatan keagamaan.* (Irsan)







