IKNews, BENGKULU – Tidak ada yang berbeda pagi itu di Sekolah Dasar (SD) 8 Kota Bengkulu. Seperti biasa, para siswa datang dan menyalami guru satu per satu di gerbang sekolah. Suasana hangat dan penuh keceriaan menyambut hari belajar.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 09.15 WIB, bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak berlarian keluar kelas. Sebagian tak sabar menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dibagikan. Tawa riuh memenuhi halaman sekolah—potret masa kecil yang sederhana namun membahagiakan.
Namun, di sudut bangku kayu di dalam kelas, ada seorang anak yang tetap duduk tenang. Namanya Muhammad Dzakwan Al-Farisys, siswa kelas 4 SD.
Saat teman-temannya tergesa-gesa membuka wadah makanan, Faris justru tampak penuh kehati-hatian. Bukan karena ia tidak lapar, melainkan karena ada keluarga di rumah yang ia pikirkan.
Dengan perlahan, Farisys membuka tas kecilnya dan mengeluarkan wadah makan yang sengaja ia bawa dari rumah. Satu per satu, nasi dan lauk yang ia terima dipindahkan ke dalam wadah itu.
Wadah makan yang dibawa Farisys bukanlah kotak bekal baru. Tutupnya sedikit kusam, pinggirannya mulai pudar. Namun, setiap malam wadah itu selalu dibersihkan dengan rapi. Pagi harinya, Faris kembali membawanya ke sekolah.
Guru-gurunya mulai memahami kebiasaan tersebut. Tidak ada yang melarang. Tidak ada yang menegur. Justru banyak yang terdiam, menyadari bahwa seorang anak kecil mampu memaknai makanan lebih dalam dari sekadar rasa kenyang.
“Untuk dimakan bersama keluarga di rumah,” jawab Faris polos ketika gurunya bertanya mengapa ia tidak menyantapnya di sekolah.
Sepulang sekolah, Faris berjalan hati-hati. Ia tidak berlari seperti anak-anak lain. Tasnya dijaga tetap tegak. Ia tahu, di dalamnya ada makan siang yang sudah dinanti di rumah.
Sesampainya di rumah, adiknya biasanya sudah menunggu. Mereka membuka wadah itu bersama. Bukan soal banyak atau sedikitnya makanan, melainkan tentang kebersamaan yang lahir dari sebungkus nasi sekolah. “Kalau makan sama-sama, rasanya lebih enak,” ujar Farisys.
Kisah Muhammad Dzakwan Al-Farisys menunjukkan bahwa sebuah program sosial kadang bekerja melampaui tujuannya di atas kertas. Makan Bergizi Gratis bukan hanya membantu anak memperoleh nutrisi, tetapi juga menjadi penopang keluarga yang sedang berjuang.
Di tangan Muhammad Dzakwan Al-Farisys, makanan itu berubah menjadi simbol kasih sayang. Bukti bahwa kepedulian tidak mengenal usia. Seorang anak kecil pun dapat mengajarkan arti berbagi yang sesungguhnya.
Di setiap butir nasi yang ia bawa pulang, tersimpan cerita tentang ketulusan—tentang keluarga dan harapan yang tetap hangat, meski disajikan dari wadah sederhana.
Ibunya bekerja dengan penghasilan terbatas dari berjualan di kantin Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pendapatan yang tidak menentu membuat kebutuhan sehari-hari harus diatur dengan sangat cermat.
Kehadiran MBG yang dibawa Muhammad Dzakwan Al-Farisys pulang menjadi tambahan yang berarti. Seporsi nasi dan lauk dari sekolah mampu mengurangi beban pengeluaran dapur sekaligus memastikan ada makanan bergizi yang bisa dinikmati bersama.
Dari sudut pandang ekonomi keluarga, kebiasaan Faris membawa pulang MBG menunjukkan dampak nyata program tersebut. Bukan hanya membantu pemenuhan gizi anak, tetapi juga menjadi penyangga kecil bagi ketahanan pangan rumah tangga.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, satu porsi makanan dapat mengubah perhitungan belanja harian, menghemat pengeluaran, dan memberi ruang bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan lain.
Lebih dari itu, MBG menghadirkan nilai sosial yang tak ternilai. Makanan yang dibawa pulang Faris menjadi simbol kebersamaan. Ia tidak sekadar menerima bantuan, tetapi mengubahnya menjadi momen makan bersama yang mempererat hubungan keluarga.
Kisah Muhammad Dzakwan Al-Farisys memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi dari bagaimana program itu benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Dalam keseharian yang sederhana, MBG telah menjadi bagian dari strategi bertahan hidup sekaligus menghadirkan rasa aman—bahwa selalu ada yang bisa dibagi di meja makan rumah mereka.
Di tangan seorang anak kecil, seporsi nasi sekolah dapat berubah menjadi simbol cinta, perjuangan, dan harapan.* (Yunus)






