IKNews, MANADO – Maria Walanda Maramis (MWM) adalah sosok perempuan pejuang yang mewariskan nilai-nilai perjuangan perempuan Indonesia yang memiliki visi yang kuat, cerdas, terampil dan mandiri.
“Dari Ibu Maria Walanda Maramis kita belajar bahwa perjuangan tanpa putus adalah perubahan,”kata Direktur Jenderal Bimas Kristen Kemenag RI, Pendeta Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., pembicara kunci pada Seminar Nasional yang digelar Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kemenag RI, Institut Agama Kristen Indonesia (IAKN) Manado bersama Badan Pengurus Pusat Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) di Aula IAKN Manado, Tateli, Jumat (28/11). Seminar yang bertajuk “Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis Menuju Indonesia Emas 2045 Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan” dilaksanakan dalam rangka memperingati 153 tahun kelahiran Ibu Maria Walanda Maramis ini sekaligus dimulainya Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang diprakarsai oleh PIKAT.
Hadir dalam acara ini Komisioner Komnas Perempuan yang juga narasumber seminar, Chatarina Pancer Istiyani, SS., M.Hum, Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Wuwung, ST., M.Pd., Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat Prof. dr. Vennetia Danes, Ph.D., Sekretaris Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, Pendeta Johni Tilaar,S.Th., M.Si, Ketua Umum BPP PIKAT Novia Lambey, SS., Sekjen Komnas Perempuan (2014-2024) dan BPP PIKAT Bidang Organisasi dan Pengkaderan sekaligus narasumber Pendeta Heemlyvaartie Danes, S.Th. Selain itu juga hadir sebanyak 300 orang peserta yang mewakili BPP PIKAT, perwakilan Cabang PIKAT, organisasi dan aktivis perempuan, tokoh agama, akademisi, jurnalis dan mahasiswa.

Jeane Tulung yang juga mantan Rektor IAKN Manado mengatakan, Ibu Maria Walanda Maramis mewariskan hal-hal penting bagi perjalanan bangsa terutama kepeduliannya pada pendidikan bagi kaum perempuan dan mendirikan organisasi PIKAT yang berdampak bagi pergerakan perempuan Indonesia yang kuat, cerdas, terampil dan mandiri. Maria Walanda Maramis yang lahir di Kema, 1 Desember 1872 adalah tokoh penggerak kaum perempuan yang berjuang dalam hak-hak politik perempuan dan kesetaraan jender. Dikatakan, dalam kerangka visi perjuangan Maria Walanda Maramis, komitmen memperkuat perlindungan perempuan melalui pendidikan merupakan kebutuhan bersama dan harus diperjuangkan oleh semua pihak. “Perlindungan perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bagian dari iman. Setiap perempuan adalah citra Allah yang tidak boleh dicederai,”kata Jeane Tulung.
Guna memaksimalkan perjuangan anti kekerasan, lanjutnya, perguruan tinggi keagamaan perlu memperkuat kurikulum yang responsif gender, literasi HAM, dan etika digital. Budaya kampus yang ramah perempuan dan bebas kekerasan menjadi bagian penting dari pendidikan unggul yang diharapkan. “Apa yang diperjuangan oleh Maria Walanda Maramis adalah perjuangan yang masih relevan hingga kini. 153 tahun telah berlalu, api perjuangan Maria Walanda Maramis tetap menyala. Tugas kita adalah memastikan terang it uterus berlanjut bagi generasi mendatang,”tambahnya.
Sementara itu, Komisioner Komnas Perempuan RI mengapresiasi perjuangan pemberdayaan perempuan yang diwariskan Maria Walanda Maramis. Dikatakan, Komnas Perempuan memiliki tugas penting dalam pemantauan, advokasi, dan edukasi terutama mengenai kekerasan terhadap perempuan. Berkaitan dengan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKtP), Komnas Perempuan bertindak selaku inisiator dan fasilitator kegiatan di Indonesia dan memaksimalkan kampanye di wilayah-wilayah mitra Komnas Perempuan.
Menurutnya, gerakan bersama di berbagai lini sejalan dengan prinsip kerja dan mandat Komnas Perempuan untuk dapat bermitra dengan pihak masyarakat serta berperan memfasilitasi upaya terkait pencegahan dan penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. KAKtP adalah kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.
Sekjen Komnas Perempuan (2014-2024) Heemlyvaartie Danes mengatakan, sosok Maria Walanda Maramis adalah sosok yang visioner yang memiliki pemikiran-pemikiran jauh ke depan tentang pemberdayaan perempuan pada masanya. “Pada usia 45 tahun Ibu Maria Walanda Maramis mendirikan PIKAT. Maria memiliki minat yang kuat dalam advokasi melalui pendidikan, penulisan dan publikasi. Dia mampu menuangkan ide-ide briliannya untuk memperjuangkan harkat dan martabat perempuan,”kata Heemlyvaartie Danes.
Ditambahkan, PIKAT sebagai organisasi bentukan Maria Walanda Maramis memiliki tanggung jawab moral untuk menggalang kebersamaan semua pemangku kepentingan dalam perjuangan pergerakan perempuan terutama untuk pendidikan dan upaya mengatasi kekerasan terhadap perempuan. “PIKAT harus mampu membangun jembatan peralihan generasi dalam mengimplementasikan warisan perjuangan Ibu Walanda Maramis. Kita harus memulainya dengan revitalisasi organisasi dan restrategi program,” tambahnya. (Mg-02)







